Di Balik Sisi Taman Kota

Kaki-kaki kecil berlarian lincah di atas permadani rumput hijau buatan. Tawa riang gembira tanpa dosa dengan kepolosan mereka, membuat suasana Taman Film terasa ceria siang itu. Tak hanya anak-anak kecil yang bermain, oran gtua ikut menikmati teduhnya taman sambil mengawasi buah hati mereka. Suasana Taman Film tak hanya diramaikan oleh anak-anak yang bermain saat itu, ada juga sekelompok pemuda yang sedang bercengkrama, anak-anak remaja yang menumpang akses wifi cuma-cuma, jajan bakso cuanki di pinggiran taman, bahkan tidur siang di lembutnya rumput hijau buatan.

Aktivitas pengunjung Taman Film (foto: Divaldi Gunawan)

“Saya sering ke sini (Taman Film), bawa cucu-cucu saya. Anak-anak dibawa ke sini karena bebas mau lari-lari main apa aja dan fasilitasnya juga aman,” ujar Hanafi (57) sambil terus memerhatikan cucunya yang sedang bermain.

Tidaklah heran taman-taman di Kota Bandung disukai oleh banyak anak-anak, karena ragam fasilitasnya yang mendukung anak-anak untuk bermain. Bebas biaya juga menjadi pertimbangan bagi para orang tua untuk membawa anak-anaknya bermain sepulang sekolah, atau sekadar jalan-jalan sore ke taman.

Murah dan lokasi taman yang strategis hingga mudah dijangkau juga menjadi alasan bagi datangnya para pengunjung ke taman. Seperti yang dilakukan Siti, Jumat (30/11) siang itu sepulang sekolah anaknya, ia bersama suami mengajak anaknya mampir sebentar ke Taman Superhero yang berada di Jalan Bengawan, Bandung Wetan.

“Saya ke sini sering, hampir tiap hari. Suka main ke taman karena murah meriah tidak mengeluarkan ongkos, di sini juga ada area wifi untuk anak yang suka mengunduh permainan. Tempatnya strategis dan aman untuk anak,” papar Siti sementara suaminya bermain dengan anak mereka.

Keunikan fasilitas taman juga menjadi magnet tersendiri untuk pengunjung. Kolam renang di Taman Sejarah misalnya, kedalamannya mungkin tidak lebih dari 30 sentimeter, luasnya pun tak seberapa, tetapi setiap siang hingga sore menjelang selalu dijejali anak-anak yang senang bermain air. Orang tua mereka menunggu di tepi kolam sembari menikmati Kota Bandung yang ramai dan menyenangkan.

Taman tentunya bukan hanya milik anak-anak dan orang tua mereka, taman adalah salah satu layanan publik, ruang bagi publik untuk berkumpul dan bercengkrama. Fasilitas taman juga berguna untuk mengembangkan bakat dan minat pemudanya, contohnya skatepark di area Taman Pasupati. Anak-anak muda dapat adu kemampuan dengan papan skateboard mereka di area ini, mereka senang dengan fasilitas yang diberikan, karena hobi dan minat mereka dapat tersalurkan dengan baik.

Sekali lagi, taman bukan hanya milik anak-anak dan orang tua mereka, serta para pemuda. Setiap kalangan memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan taman sebagai fasilitas publik, termasuk para lansia dan penyandang disabilitas. Maka fasilitas yang ramah untuk keadaan mereka pun diperlukan agar memudahkan aktivitas mereka. Seperti namanya, Taman Lansia sudah cukup mewujudkannya dengan area yang luas dan teduh berkat rindangnya pepohonan, track datar dan lurus membantu para lansia atau pengguna kursi roda agar mudah mengelilingi taman ini. Tak hanya Taman Lansia, Taman Superhero pun sudah ramah dengan para disabilitas.

Permukaan jalan yang datar dan lurus membantu para pengguna kursi roda dan lansia (foto: Meisya Femilia)

Menurut Aji Nugraha, selaku Penyusun Data dan Informasi Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Pertamanan Kota Bandung, selain sebagai layanan publik dan ruang terbuka, taman memiliki fungsi-fungsi lainnya.

“Sebenarnya taman itu fungsinya sebagai RTH ya (ruang terbuka hijau) jadi harus ada fungsi ekologis atau visi lingkungan di mana di situ ada istilahnya ada hubungan antara alam dengan sekitarnya (simbiosis mutualisme). Jadi misalnya, satu pohon bisa menghasilkan oksigen, lalu ada fungsi penyerapan air juga itu taman jadi intinya fungsi ekologis. Ada fungsi sosial juga di mana ada interkasi antara masyarakat dengan masyarakat lainnya. Sehingga ada interaksi dan pada akhirnya itu meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat,” jelasnya ketika ditemui di Kantor Dinas sementara PK3P Jalan KH. Wahid Hasyim, Kopo, Bandung.

Taman Kota selain sebagai ruang hijau terbuka juga sebagai tempat publik untuk bersosialisasi (foto: Meisya Femilia)

Tak hanya ramah dari segi fasilitas, taman di Kota Bandung juga cukup lengkap ragam fasilitasnya. Taman Badak dan Taman Dewi Sartika, dua taman yang berada dalam satu area ini memiliki fasilitas yang lengkap. Wifi sudah jelas ada, toilet umum yang bersih? Ada, arena bermain anak? Ada, sarana olahraga? Ada juga, spot menarik untuk berswafoto? Tentu saja ada, keran air minum juga ada di sini. Kedua taman ini juga didukung dengan kebersihan dan lokasinya yang tepat berada di pinggiran jalan besar Kota Bandung, dengan fasilitas dan lokasi yang mudah dijangkau tadi, membuat taman ini cukup diminati dan didatangi pengunjung.

Kalo standar fasilitas itu bisa dicari ya, yang paling penting itu bangku taman, wifi gratis, malahan yang terakhir wajib itu CCTV, soalnya ada beberapa kejadian HP hilang gitu, ini ada aplikasi (pencari)-nya,” ujar Aji, lagi.

Baca juga:  Sunda Wiwitan: Jalan Panjang Meraih Keadilan

Senangnya berkunjung ke taman-taman di Kota Bandung. Kita bisa bermain, olahraga, dan berkumpul dengan keluarga. Bersenang-senang tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam, fasilitas dari pemerintah sudah cukup membahagiakan. Kebersihan dan kenyamannya membuat pengunjung terus berdatangan untuk menikmati berbagai fasilitas yang ada.

Nyatanya, daripada membangun, memelihara dan menjaga itu jauh lebih sulit, seperti yang dikatakan oleh Aji Nugraha.

“Yang paling sulit itu memelihara, daripada membangun  taman. Jadi, untuk pemeliharannya sendiri kita dibantu oleh tenaga ahli walaupun kerjaanya biasanya hanya sapu-sapu tapi kita sebut tenaga ahli. Kita juga punya park ranger jadi istilahnya kita merekrut orang kerja harian lepas yang biasa kita gaji 2,8 juta per bulan. Terus di atasnya ada koordinator wilayah sehingga  mereka ngurus-nya per sektor. Selain itu juga ada, namanya tim satgas,” tegasnya.

Keramahan, keindahan dan kenyamanan taman di Bandung nyatanya tidak luput dari cela. Memang benar kata orang, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Biarpun taman-taman di Bandung nyaman dan banyak disukai orang, aksi tangan-tangan jahil tidak dapat dihindarkan. Selalu ada saja oknum-oknum yang tega mengotori atau merusak fasilitas yang diberikan pemerintah sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.

Coretan-coretan cat semprot bisa kita temui di beberapa fasilitas di taman-taman Kota Bandung. Di Taman Pasupati misalnya, coretan-coretan tidak penting yang merupakan aksi vandalisme ini mengotori papan-papan imbauan yang berdiri di taman. Aksi-aksi tidak terpuji ini, menurut Iwan Sugiyono, selaku Kepala Bidang Pertamanan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan Kota Bandung, biasanya adalah ulah dari anak jalanan.

Aksi vandalisme dengan mengotori fasilitas publik menjadikan keindahan taman rusak (foto: Meisya Femilia)

“Nah itu, ya udah seenaknya dia corat-coret vandalisme, ya susahlah kita sudah bersihkan di cat lagi eh besoknya ada lagi,” menurutnya, meski sudah dibersihkan, keesokan harinya atau beberapa waktu yang akan datang, coretan-coretan akan muncul kembali.

Menurut Aji, vandalisme taman memang hal yang sulit untuk dihindari dari penjagaan taman. Selain masalah yang timbul karena aksi vandalisme, masalah lain yang juga turut merongrong taman di Kota Bandung adalah pedagang kaki lima (PKL) dan lahan parkir. Masih menurut Iwan, masalah PKL ini memang sudah menjadi salah satu dari tiga penyakit di kota Bandung, setelah gelandangan pengamen (Gepeng), dan anak jalanan.

“PKL itukan sektor informal, setiap ada kerumunan pasti mereka ada, karena dia tidak terstruktur. Nah setiap yg nangkep PKL itu datang, ada yang bawa kendaraan atau memaksakan bawa kendaraan, itu bikin semrawut. Kedua, setiap ada PKL itu pasti nyampah, sok lihat saja pasti ada sampahnya di situ, yang ketiga suka dipakai mangkal-mangkal yang kurang bereslah di situ biasanya terjadinya suatu kriminalisasi ya itu salah satunya gitu,” paparnya.

Sementara itu, para PKL bukannya tanpa alasan berjualan karena tak ada cara lain untuk mencari uang demi sesuap nasi dan jajan si buah hati.

“Ya dimana-mana juga pemerintah mah melarang nggak boleh jualan, cuma kan kita mah ngambil-ngambil aja, gimana lagi orang mau makan gitu,” tutur Sopian (42), PKL yang biasa mangkal di sekitar Taman Lansia.

Pedagang kaki lima di pinggiran Taman Foto (foto: Deira Triyanti)

Menurut Aji lagi, PKL ini merupakan ranah dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Kalau PKL sudah ada Perda nya, ya tapi PKL kakinya ada lima, nah ini tugasnya lebih ke Satpol PP. Kita juga punya Polisi Taman tapi nggak secara keras, cuma secara persuasif gitu nanti mereka yang koordinasi ke Satpol PP,” paparnya.

Masalah lahan parkir, setiap tempat rasanya memang memiliki kendala dengan lahan parkir akibat membludaknya kendaraan bermotor di Indonesia. Tak semua taman di Kota Bandung memiliki tempat parkir yang memadai, misalnya di Taman Pasupati dan Taman Film, salah satu pengunjung mengungkap kalau ia sering parkir di parkiran milik Balubur Town Square (Baltos), pusat perbelanjaan dekat taman ini.

“Sering kesini tiap pagi, main skateboard. Kebetulan saya membawa kendaraan mobil, tapi parkirnya di Baltos karena kalo dekat taman suka gak dapet parkir,” papar Ari, salah satu pengunjung skatepark di Taman Pasupati.

Iwan Sugiyono selaku Kabid Pertamanan mengatakan, keterbatasan tempat parkir di taman-taman Kota Bandung memang bukan bagian dari perhatian utama dalam membuat taman di Bandung.

Parkir motor di sekitar Taman Superhero yang berhubungan langsung dengan badan jalan (foto: Meisya Femilia)

“Walaupun kota besar, tapi luasan Kota Bandung ini tidak proporsional. Dengan luas 167,7 km2, itu tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang hampir tiga juta. Artinya kalau menyediakan taman berikut sarana parkirnya bayangkan harus memakai lahan seluas apa. Oleh karena itu kita membuat taman ini tidak berpikir tentang masalah perparkiran,” ujarnya.

Ia juga mengimbau agar masyarakat menggunakan transportasi umum saja ketimbang membawa kendaraan pribadi yang susah mencari parkir. “Sekarang sudah banyak transportasi online, lebih baik gunakan itu saja,” lanjutnya.

Dengan dibangunnya taman-taman khususnya Taman Tematik di Kota Bandung, terbukti meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat kota Bandung. Hal ini perlu terus diperhatikan oleh seluruh masyarakat, agar fasilitas yang sudah diberikan secara gratis untuk dijaga dengan baik. Dengan menjaga fasilitas dan kebersihan taman, tentu juga menjadi keuntungan tersendiri bagi setiap elemen masyarakat yang ingin menikmatinya. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi?(MF)

TAG
Beri Tanggapan

You must be logged in to post a comment.

Baca juga