Prostitusi dan Lokalisasi di Jatinangor

Jatinangor, mungkin masih banyak yang belum mengetahui nama daerah tersebut. Jatinangor merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jarak Jatinangor ke Kota Bandung bisa dibilang cukup dekat yakni 27 km.

Jatinangor merupakan kawasan pendidikan yang menaungi empat perguruan tinggi. Mulai dari yang berstatus negeri seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), hingga yang berstatus swasta Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin). Tidak heran jika Jatinangor memiliki lebih banyak pendatang daripada warga lokalnya. Jatinangor juga menyimpan berbagai macam cerita.

Salah satunya adalah prostitusi di Jatinangor yang pernah membuat geger di masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan biologis yang dibutuhkan oleh pelanggan serta kebutuhan ekonomi yang digunakan oleh penyedia jasa. Sehingga, terjadi transaksi yang dikarenakan oleh supply dan demand.

Awal mulanya prostitusi pada sekitar 20 tahun yang lalu dirasakan oleh Anton Solihin, warga lokal Jatinangor sekaligus pemilik Perpustakaan Batu Api. Sebelum Jatinangor menetapkan jalan satu arah, ia sering melihat para Pekerja Seks Komersial yang berada di depan rumahnya. Para PSK tersebut sering diangkut menggunakan truk ke arah Ciromed, Tanjungsari, Kab. Sumedang.

 Pom Bensin Ciromed

Pom Bensin Ciromed

“Dulu ada lokalisasi di Jatinangor, semacam Saritem begitu di daerah Ciromed. Sekitar tahun 2001 lah, para PSK itu pergi ke sana jam 9 malam dan kembali ke Jatinangor pagi sekitar jam 1-an,” kenang Anton. Siang harinya, para PSK tersebut bekerja seperti biasanya, “Iya mereka (para PSK) sering tertawa-tawa malam-malam, tetapi kalau siang suka menjadi pembantu rumah tangga (PRT). Tetapi kerjanya kadang suka tidak bener,” tutup Anton.

Sejak tahun 2002, daerah Ciromed yang terkenal sebagai tempat prostitusi akhirnya dijadikan masjid dan pom bensin. Meskipun begitu, bisnis prostitusi di daerah tersebut tidak akan pernah mati. Kebutuhan biologis manusia juga sama dengan kebutuhan manusia untuk makan dan minum.

Jalan Ciseke

Dampak Prostitusi bagi Masyarakat

Keresahan ini juga ditanggapi oleh salah satu dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Satriya Wibawa. Ia merupakan dosen yang mengajar mata kuliah Trans National Crime atau Kejahatan Trans Nasional.

Menurutnya, perdagangan manusia (human trafficking) di bidang prostitusi cukup luas dan menarik untuk dibahas. Ada beberapa unsur human trafficking dalam prostitusi. “Pertama jaminan terhadap korban-korban tersebut dan kedua merupakan faktor penyebab. Misalnya, ada orang yang terlibat hutang kemudian ia menjual istri atau anaknya ke luar negeri,” ujar Satriya.

Ia juga menanggapi bahwa di setiap daerah pendidikan pasti ada yang namanya prostitusi. Kebanyakan hal tersebut dilakukan oleh mahasiswa. Ia juga tidak kaget dengan banyaknya prostitusi di Jatinangor, sebab ia juga cukup akrab dengan “dunia” seperti itu.

Selama 15 tahun ia menjadi dosen, ia tidak asing dengan mahasiswa yang menjadi pelaku prostitusi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut baik dari agen maupun mandiri. Mereka tidak jarang menawarkan diri mereka terhadap orang-orang sekitarnya termasuk dosen dengan maksud tertentu.

Sangat disayangkan pemerintah kurang tegas menangani prostitusi. Hanya segelintir pihak yang ditindaklanjuti. Misalnya, di daerah apartemen atau hotel-hotel berbintang di Jatinangor yang jarang dirazia karena keterkaitan beberapa pihak termasuk pemerintah dan aparat.

“Bahkan di Jepang saja Yakuza juga ada yang dari pemerintahan,” tutur Satriya. Terkadang, prostitusi yang melibatkan mahasiswa juga bisa sampai ke luar negeri. “Tidak mungkin orang tidak punya keterampilan tidak bisa ke luar negeri. Terkadang jaringan-jaringan prostitusi tersebut mengirimkan orang-orang sini (re: Indonesia) untuk menjadi pelacur di sana,” kata Satriya.

Baca juga:  Wayang Sebagai Perwujudan Indonesia Berbudaya

Regulasi Mengenai Prostitusi

Regulasi mengenai prostitusi sebenarnya sudah banyak, namun tidak dapat disosialisasikan dengan baik. “Banyak sekali regulasi di Indonesia, tetapi kembali lagi ke mental warga negaranya,” kata Satriya. Menurutnya, orang Indonesia cenderung bisa membangun namun tidak bisa mempertahankan atau konsisten terhadap keputusan dan regulasi yang telah dibuat.

Banyak sekali regulasi-regulasi yang berkaitan dengan prostitusi. Mulai dari aturan internasional, Undang-Undang, hingga P2TP2A. Contohnya dasar hukum perdagangan orang adalah UU no.21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan orang.Tetapi sosialisasinya tidak sampai karena masalah yang cukup kompleks yang diakibatkan oleh narkoba, korupsi, dan pencucian uang.

“Bahkan ada salah satu kabupaten di Jawa Barat yang isinya satu desa pelaku prostitusi semua,” Satriya mengenang masa lalunya ketika memberikan sosialisasi di desa tersebut. Ia sempat hampir menjadi bulan-bulanan warga akibat satu desa merupakan pelaku prostitusi hingga ke aparat hukumnya.

Pijat Plus-Plus

Kami menemui Alviro (nama disamarkan), yang membuka jasa pijat plus-plus selain jasa prostitusi. Alviro merupakan mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas di Jatinangor. Alviro memulai bisnis ini untuk kesenangan pribadinya. Namun sayangnya, Alviro tidak bersedia dihubungi secara langsung melainkan lewat media sosial LINE.

Alviro memasang tarif mulai dari 300rb hingga 500rb. Jasa yang ditawarkan juga beragam/ Mulai dari pijat plus plus hingga untuk seks semata. Alviro memasarkan bisnisnya melalui aplikasi kencan dan aplikasi LINE.

Lokasi tempat Alviro menjalankan bisnisnya juga strategis. Maka tidak heran, Omzet Alviro sebagai PSK cukup besar. Alviro merupakan pelaku prostitusi yang menjajakan dirinya sendiri.

Selain Alviro, kami dapat informasi mengenai Kisel yang berlokasi di Cibeusi dan Anastasia (bukan nama sebenarnya) yang berlokasi di GKPN. Mereka berdua juga menawarkan jasa yang berkisar mulai dari 350ribu hingga 500 ribu tergantung durasinya.

Prostitusi sebagai Gaya Hidup

Prostitusi merupakan hal yang kompleks. Mulai dari ekonomi, gaya hidup, hingga ke teknologi. Zaman sekarang, untuk menjajakan diri tidak perlu keluar rumah dan berdandan cantik, cukup memiliki media sosial seperti Twitteruang akan mengalir dengan sendirinya.

“Sekarang gampang kalau mau cari PSK. Harga variatif, segmentasi juga banyak. Mau yang tua maupun muda juga ada. Laki-laki pun tidak menutup kemungkinan dengan modus pijat,” ujar Satriya.

Untuk gaya hidup, Satriya juga memiliki pendapat. “Banyak yang melakukan prostitusi (baik secara sadar maupun tidak) untuk gaya hidup. Misalnya di bar atau bahkan di kampus,” ujarnya. “Bisnis ini tidak pernah mati, karena supply dan demandnya ada terus. Dan banyak pihak yang men-support” lanjutnya.

Satriya memang cukup akrab dengan dunia malam. Ia memiliki teman dari kalangan-kalangan yang terlibat dalam dunia tersebut seperti pemilik bar, Disc Jockey(DJ), hingga penari.Suatu hari pada 2012, ia pergi ke salah satu klub di daerah Pasirkaliki, Bandung, Jawa Barat.

Ia memesan meja dengan temannya. Tidak lama kemudian, ada salah satu perempuan yang menghampiri dan menyodorkan ponselnya. Setelah ditanya, ia merupakan mahasiswa salah satu universitas negeri di Jatinangor. Mahasiswa tersebut mengaku menjadi PSK akibat ingin memenuhi gaya hidupnya yang mewah dengan cara yang instan.

Reporter: Hana Nushratu dan Saepul K

TAG
Beri Tanggapan

You must be logged in to post a comment.

Baca juga