Santika, Sosok Di Balik Siaran Serentak Radio Se-Bandung

Foto dokumentasi pribadi Santika Sari Sumantri

FIXINDONESIA.COM – Suaranya tentu tak asing bagi pendengar radio-radio di Bandung. Merdu dan lugas saat menyampaikan berita secara serentak di 42 radio anggota PRSSNI Bandung, setiap pukul 2 siang. Santika Sari Sumantri. Nama dan suaranya mungkin akrab, tapi tak banyak yang tahu tentang sosoknya lebih jauh.

Kecintaannya terhadap siaran radio memang sudah tampak sejak kecil. Bermula saat kelas 6 Sekolah Dasar (SD), Santika kecil diajak guru kesenian di sekolahnya untuk mengikuti acara di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Di sana, ia diperkenalkan dengan dunia siaran, mulai melihat bagaimana “Angkasawan RRI” bersiaran, hingga mengisi acara nyanyi untuk kegiatan anak-anak seusianya.

“Kayanya seru,” pikir Santika saat itu.

Sejak itu, rasa ingin tahu Santika tentang dunia siaran terus tumbuh. Di benaknya bertanya-tanya, bagaimana suara seseorang dari studio bisa sampai ke rumah-rumah warga? Namun, tak saat itu juga ia memutuskan untuk nyemplung ke dunia radio. Ia masih sempat menekuni dunia modeling pada waktu SMP.

Ketertarikan akan dunia penyiaran radion muncul kembali saat Santika memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), lebih tepatnya kelas 1 SMA.  Radio Ganesha Bandung menjadi pelabuhan pertamanya. Ia diterima melalui program diklat penyiar.

Dari situ, Santika terus menggali potensi dirinya di dunia penyiaran radio, dengan bantuan dan bimbingan dari senior-seniarnya yang banyak berjasa dalam perkembangan karirnya. “Saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan mereka semua, Alm. Bpk Demas Korompis, Mas Ganang Partho, dan kakak-kakak senior saya yang lain,” ungkapnya.

Bagi mojang kelahiran 25 November ini, dunia radio itu seru dan memberikan banyak tantangan. “Dulu selain diberi tugas untuk mengisi program acara di radio Ganesha, saya pun diterjunin ke lapangan untuk menjadi reporter yang memang harus bisa live report di lapangan juga,” kenang Santika.

Santika mengenang, saat liputan langsung ia pertama kali diajak oleh senior sekaligus gurunya dalam dunia radio, yang dulunya sempat menjadi anchor di Lembaga Produksi Siaran (LPS) Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Bandung, Witarsa Watarman. Sama seperti dirinya saat ini.

Santika menceritakan awal mula bergabung menjadi pembaca berita di LPS PRSSNI Bandung. Berawal dari panggilan untuk mengikuti seleksi menjadi pembaca berita bersama dengan beberapa penyiar radio Bandung yang lain. Ia mengaku sempat ragu, tapi pengalaman panjangnya di berbagai radio mengantarkannya lolos dan terpilih menjadi pembaca berita tetap di PRSSNI Bandung.

Baca juga:  Geliat Ekonomi Dunia E-Sports, Menggiurkan sekaligus Menantang

“Saya lolos untuk gabung di PRSSNI sebagai pembaca berita sampai sekarang,” ucap perempuan yang saat ini sebagai penyiar di Radio Maya 98 FM Bandung.

Dunia siaran radio bagi Santika sudah menjadi hobi. Sebab, selain bisa menjadi hiburan buat diri sendiri, ia juga merasa ada kepuasan saat bisa  memberikan hiburan dan informasi untuk pendengar. Meski sempat menjajal menjadi presenter tv lokal di Jawa Barat, radio bagi Santika sudah menjadi candu. Selalu menggoda untuk kembali.

“Pendengar senang dan bahagia itu yang membuat saya merasa puas. Itu alasan saya kenapa sampai sekarang masih bertahan di radio,” katanya.

Berkat kesuksesan dan konsistensi di dunia radio, nama Santika Sari Sumantri semakin dikenal. Tidak hanya populer di kalangan pendengar radio di Bandung, di jagad maya pun sama. Akun media sosialnya, instagram, diikuti lebih dari 13,500 orang.

“Buat saya, seorang penyiar harus siap dengan menjadi seorang publicfigure, dikenal, punya fans. Ditunjang dengan era digital sekarang ada media sosial. Orang yang biasa denger suaranya aja lewat radio sekarang udah bisa lihat juga orangnya,” jelasnya.

Menghadapi persaingan dunia media yang semakin pesat, Santika yakin jika radio tetap memiliki tempat di hati masyarakat.  Karakteristik radio yang khas tidak mampu digantikan media lain, digital sekalipun.

“Di era zaman serba mudah mendapatkan informasi, buat saya radio masih tetap mendapatkan tempat favorit di masyarakat.  Karena radio ini spesial ya. Murah juga orang bisa dengerin di mana aja, tanpa pake kuota,” ujar Santika.

Meski begitu, insan radio dituntut kreatif dalam mengemas program siaran, sehingga radio tak ditinggalkan pendengarnya.  “Radio tentunya harus selalu update informasi, juga penyiarnya, dan isi konten program acara yang menarik dan lagu easy listening lah,” tutupnya.

Kenal lebih jauh dan ikuti keseharian perempuan yang memiliki moto hidup “Triple S”  (Santai Serius Sukses) ini, melalui instagram @santikasarisumantri

TAG
Beri Tanggapan

You must be logged in to post a comment.

Baca juga