Supardiono Sobirin: Bantu Jaga Bumi dengan Rumah Tanpa Sampah

Supardiyono Sobirin saat ditemui di kediamannya. (Foto: Ventriana Berlyanti)

Supardiyono Sobirin, nama yang tak asing didengar para praktisi lingkungan ini, kini telah berusia 75 tahun. Di tangannya, sampah yang dianggap hal kotor, berbau busuk, dan sering kali dihiraukan, dapat berubah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk lingkungan. Pada Hari Minggu, 26 Mei 2019, saya dan rekan saya menemui Sobirin di kediamannya di Cigadung, Bandung. Rumah kokoh berpagar kuning berdiri, dikelilingi dengan taman hijau yang luas, lengkap dengan tanaman cocok tanam. Kami mengobrol di bawah terpal sederhana yang dapat digunakan untuk duduk santai, di kelilingi asri, hijau, dan bersihnya lingkungan rumah.

“Seadanya ya..”, begitu gumamnya mempersilahkan kami duduk. Dengan berseling kicauan burung liar, kami memulai obrolan.

Sobirin sudah belasan tahun menekuni kegiatan ini. Ketertarikannya dengan lingkungan menjadikan Sobirin memfokuskan diri pada kompos. Bisa dibilang, tak ada sampah organik dan sampah rumah tangga yang keluar dari rumahnya. Semua sampah yang dihasilkan keluarganya, adalah menjadikannya kompos.

Perbincangan dengannya diawali dengan kenyataan bahwa permasalahan sampah di Bandung tak mudah terselesaikan. Beliau kemudian menyebutkan kenyataan bahwa sampah Kota Bandung per hari mencapai berat 1,000 gajah dan dalam 2 minggu akan mencapai tinggi Gedung Sate. Menurut Sobirin, keadaan ini tidak akan berubah jika masyarakat tidak bertanggung jawab atas sampahnya masing-masing.

“Sampah tidak akan selesai di alam ini, kalau tidak diawali dengan perilaku hidup manusia sendiri,”  Sobirin juga menyampaikan ada baiknya setiap keluarga bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan masing-masing keluarga. Dengan begitu, volume sampah setiap hari tentunya akan berkurang.

Sampah yang dihasilkan setiap harinya, tidak hilang begitu saja ketika sampah itu tak lagi terlihat. Terdapat banyak kemungkinan dimana sampah itu berada, bisa saja sampah yang tadinya kita tinggalkan di tempat duduk sudah tercecer di jalanan, terbuang sampai ke lautan, atau bahkan teronggok saja di pembuangan. Dimanapun itu, sampah tidak hilang.

“Intinya, Apabila kita sudah dapat memproses sampah kita sendiri, maka sebetulnya sudah mengurangi sampah yang beredar di perkotaan,” tutupnya mengenai isu sampah di Bandung.

Praktik Lebih Dibutuhkan daripada Teori: Kompos Buatannya

Sobirin juga mengatakan, isu soal lingkungan lebih membutuhkan praktik daripada hanya sekedar teori. Sejauh mana kita terus berupaya mengurangi sampah, sejauh mana kegiatan yang mendukung lingkungan, sejauh mana kita telah menerapkan reduce, reuse, recycle, replace, dan replant. Sejauh mana kita peduli tentang sampah yang sudah kita hasilkan.

“Rumah ini 100% terdiri dari 60% organik 40% limbah. Saya sendiri bertanggung jawab atas sampah organik yang dihasilkan. Dijadikan kompos, lalu urban farming seperti ini,” gumamnya sembari mengarahkan telunjuknya pada tanaman yang terhampar di depan kami. Kemudian ia menjelaskan bagaimana ia membuat kompos dari sampah organik yang dihasilkan.

Hal pertama yang harus diperhatikan saat membuat kompos ialah adanya MOL atau Mikro Organisme Lokal yang akan mengubah sampah organik menjadi kompos. Dengan bahan yang tak sulit ditemukan, Sobirin dapat mengubahnya menjadi starter, aktivator, dan bibit kompos.

Mikro Organisme Kompos

Mikro Organisme Lokal gedebong pisang buatan Sobirin. (Foto: Ventriana Berlyanti)

Bahan utama yang dibutuhkan ialah gedebong pisang, bahan ini dapat digantikan dengan buah alpukat muda atau jambu batu muda, atau pepaya muda. Bahan utama seberat 1 kilogram yang sudah dicacah dan ditumbuk, kemudian dicampurkan dengan gula setengah kilogram, air kelapa 4 gelas, dan air 40 liter. Campuran bahan-bahan ini kemudian didiamkan kira-kira 1 minggu dengan keadaan tutup tong yang dibuat bolong-bolong. Ketika bahan sudah jadi, aroma seperti alkohol akan keluar.

Langkah selanjutnya, menyiapkan sampah organik yang akan diproses pada komposter anaerob. Anaerob berarti tidak terdapat oksigen. Proses ini melibatkan bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk mengurai sampah organik tersebut.

komposter anaerob

Salah satu komposter anaerob milik Sobirin. (Foto: Ventriana Berlyanti)

Pada dasarnya, sampah organik atau sampah rumah tangga akan dimasukkan ke dalam lubang komposter dan dicampurkan dengan MOL. Sampah berupa rumput, daun, sayur-mayur dari dapur ini kemudian ditimpa dengan tutup beton tipis. Setiap 3 hari, semprotkan MOL kembali. Setelah 2 minggu, kompos anaerob ini dapat dipanen.

Baca juga:  Pemkab Bandung Kembali Gencar Sosialisasikan Gerakan Pengurangan Pengunaan Plastik

Terdapat tiga layer pada kompos anaerob ini. Bagian atas ialah kompos mentah, bagian tengah ialah kompos setengah matang, dan bagian paling bawah ialah kompos yang dapat dipanen. Kompos bagian tengah dan bawah dapat disimpan pada komposter aerob. Komposter aerob memiliki lubang untuk mengalirnya udara, berbanding terbalik dengan anaerob.

Komposter aerob ini kemudian menjadi langkah terakhir kompos dihasilkan. Kompos yang diambil ialah kompos bagian bawah komposter aerob. Dengan banyaknya langkah yang dilalui, kompos pun telah selesai dihasilkan.

Sampah organik yang awalnya berbau dan terlihat tak mengenakan, kini telah berubah menjadi kompos, tak sedikit pun berbau, dengan tekstur seperti pasir. Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan Sobirin untuk tanaman-tanaman di rumahnya, menjadikannya urban farming. Ada banyak tanaman pertanian yang ditanam, diantaranya sawi putih, kemangi.

Walau berhubungan dengan sampah, keadaan rumah Sobirin sangat rapi, asri, dan tertata dengan baik. Tak ada sedikit pun sampah berbau dan lalat yang datang. Ia berpegang pada prinsip bahwa kebersihan ialah sebagian dari iman.

kompos

Kompos yang telah matang dan dapat digunakan. Tidak berbau, bertekstur seperti tanah. (Foto: Ventriana Berlyanti)

Komitmen Sobirin, Pasang Surut Rumah Tanpa Sampah

Komitmen awal pada dirinya, komitmen juga bersama keluarga dan seisi rumahlah, yang membuat hal ini terus berlanjut. Walau manusia memiliki siklus yang tak selalu semangat dalam melakukan suatu aktivitas, Sobirin mengaku sebisa mungkin menjadikan ini sebagai rutinitas, sembari mengingat komitmen awal yang sudah dibangun. Karena komitmen tersebutlah yang menghantarkannya tetap melakukan kegiatan ini hingga kini.

Bersama Udin, salah satu asisten kebunnya, Sobirin terus melakukan proses pembuatan kompos secara berkelanjutan. Namun ia mengaku, tak menjual hasil komposnya.

Ia juga telah menyampaikan cara pengomposan ini pada tetangga dan dunia luar, dengan membuat website dan pelatihan, Sobirin berharap sampah dapat dimanfaatkan untuk menjadi hal yang lebih berguna daripada akhirnya dibuang atau ditelantarkan saja di pembuangan.

Tanaman Hasil Kompos

Tanaman pertanian yang asri di pekarangan rumah Sobirin. Kompos pun dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman ini. (Foto: Ventriana Berlyanti)

Tak semua sampah dapat ia olah, ia mengaku hanya berfokus pada sampah organik. Sampah anorganik yang telah ia kurangi pemakaiannya, ia berikan pada pemulung yang telah biasa ia berikan pesan untuk mendaur ulang sampah plastik darinya.

“Untuk sampah plastik, dikumpulkan rapi, diberikan kepada pemulung yang disarankan untuk daur ulang, disarankan untuk membuat ember plastik, jangan sebagai kantong kresek kembali,” begitu katanya.

Tak hanya sampah organik yang dihasilkan oleh keluarganya sendiri, ia juga menyimpan dan memanfaatkan kembali air hujan yang biasanya hanya kita hiraukan. Di belakang rumahnya, terdapat tangki air cukup besar.

Air hujan yang tersimpan dalam tangki air besar itu kemudian dimanfaatkan untuk menyiram tanaman pada musim kemarau dan kering. Keadaan iklim yang tak menentu akhirnya dapat teratasi. Air untuk tanaman pertaniannya pun tetap terjaga bahkan saat cuaca dan iklim berganti dari musim hujan menjadi musim kemarau.

“Ya untuk siram tanaman khususnya saat musim kemarau, kalau tidak dimanfaatkan untuk cuci-cuci tangan, lumayan, tidak pakai yang bayar,” tutur Udin, salah satu asisten kebunnya saat ditanyakan tentang kegunaan air hujan yang ditampung tersebut.

Sulit menjadi sosok seperti Sobirin Supardiyono. Menjadi praktisi lingkungan, anggota Tim Ahli Satuan Tugas (Satgas) Citarum, serta segala komitmen yang terus dijalaninya untuk lingkungan, menjadikannya sosok yang berkibar tanpa gelar, berkiprah tanpa ijasah, dan bermartabat tanpa pangkat.

“Tapi saya tidak menghendaki generasi muda seperti saya, karena berat. Turun ke masyarakat, dengan segala persaingan akademisi ini,” begitu tuturnya setelah mengucapkan moto hidupnya di atas.

Kegigihan, kepedulian dan jalan hidupnya telah menuntunnya pada lingkungan, tak sedikit praktik langsung yang telah diberikan Sobirin bagi lingkungan, dan tentu bumi ini akan terus menghitung dengan sabar, satu demi satu sampah yang berkurang karena sosok seperti Sobirin. Kisah ini sayangnya harus usai, namun biarlah pemikiran-pemikiran yang telah terbuka karena kisah ini tetap ada, dan akhirnya menghadirkan lebih banyak sosok sepertinya di muka bumi. (Lintang Amiluhur)

TAG
Beri Tanggapan

You must be logged in to post a comment.

Baca juga